In-depth

Profil Lakshya Sen: Sang Kuda Hitam All England, Anthony Ginting Pernah Jadi 'Korban'

Minggu, 20 Maret 2022 16:09 WIB
Editor: Nugrahenny Putri Untari
© Robertus Pudyanto/Getty Images
Lakshya Sen, pebulutangkis India yang pernah menghancurkan Anthony Ginting dan kini juga naik daun jelang final All England 2022. Foto: Robertus Pudyanto/Getty Images. Copyright: © Robertus Pudyanto/Getty Images
Lakshya Sen, pebulutangkis India yang pernah menghancurkan Anthony Ginting dan kini juga naik daun jelang final All England 2022. Foto: Robertus Pudyanto/Getty Images.
Banyak Prestasi, Bakat Turunan Keluarga

Walau saat ini tengah naik daun jelang final All England 2022 melawan Viktor Axelsen, pada dasarnya Lakshya Sen sudah mengukir banyak prestasi sejak lama.

Ia adalah pebulutangkis langganan juara di berbagai turnamen junior yang digelar di seluruh penjuru dunia.

Mulai dari World Championships, Asian Junior Championships, sampai Olympic Youth Games sudah pernah ia cicipi saat usia remaja.

Kehebatan Lakshya Sen di lapangan bulutangkis pun tidak lepas dari gen bawaan keluarga yang juga berkecimpung di sektor olahraga ini.

Ia adalah putra salah satu tokoh pelatih yang dihormati di India, DK Sen, dan saudara laki-laki Chirag Sen, pebulutangkis yang juga tampil di turnamen-turnamen internasional.

Memiliki darah bulutangkis yang mengalir dalam tubuhnya, kisah Lakshya Sen dan olahraga tepok bulu ini pun dimulai sejak anak-anak.

Awalnya, saat berusia 9 tahun, ia membujuk sang ayah untuk membawanya menonton kakaknya, Chirag, bertanding di Union Bank All-India Sub-Junior Ranking Badminton Tournament.

Setelah turnamen itulah, keluarga kecil ini bertemu legenda bulutangkis India, Vimal Kumar, yang kemudian memberi kesempatan Lakshya Sen mengikuti trial.

Ia pun menimba ilmu di Prakash Padukone Badminton Academy, dan di tempat inilah aura bintangnya mulai ditempa di bawah pengamatan Vimal Kumar dan Prakash Padukone.

Dua legenda bulutangkis ini pun melihat ada yang spesial dari Lakshya Sen kecil, termasuk passion dan jiwa kompetitifnya yang sangat kuat. Ia bahkan bisa menangis di pojokan setiap habis kalah di pertandingan.

Akan tetapi, experience is the best teacher bagi pebulutangkis yang kini berusia 20 tahun tersebut. Terbukti, ia kini siap meneruskan jejak para seniornya seperti Prakash Padukone, Srikanth Kidambi, dan yang lainnya.