5 Blunder Fatal Klub-klub Sepakbola di Bursa Transfer
Klub-klub besar biasanya selalu memiliki postur finansial yang mumpuni. Bukan hanya karena dimiliki oleh taipan-taipan kaya raya yang tak segan mengguyur mereka dengan banyak dana, namun juga karena uang melimpah yang didapat dari hak penyiaran.
Bergelimangnya uang pun membuat klub terkadang merasa di atas angin dan kerap tak perhitungan dalam transfer pemain.
Pada saat jendela transfer dibuka, mereka biasanya langsung melancarkan tawaran-tawaran tinggi untuk merekrut pemain-pemain incarannya. Bahkan tak jarang, mereka rela mengajukan nilai tak masuk akal dengan dalih menjaga daya tawar klub dari pesaing-pesaingnya di liga.
Dalam era modern ini sendiri sudah banyak kasus demikian. Sebut saja pada kasus transfer pemain termahal Setan Merah, Paul Pogba. Tentunya publik masih ingat bagaimana ia dibeli dengan harga selangit, Rp1,4 triliun, dari Juventus.
Padahal sebagaimana dikabarkan Sportskeeda, pihak Manchester United sendiri tidak semuanya satu suara tentang apakah harga tersebut layak untuk seorang Pogba.
"Sindrom" ini juga biasanya dimanfaatkan oleh klub-klub kecil saat bertransaksi dengan klub besar. Mereka tahu bahwa klub besar akan rela membayar mahal untuk membeli pemainnya. Meskipun sejatinya, mereka sendiri belum tentu tahu bagaimana cara menggunakan uang hasil penjualan pemain tersebut secara efektif.