Persipura Jayapura dan Bagaimana Kesulitannya Mencari Kiper Asli Papua
Hal yang menjadi persoalan kenapa para pemain sepak bola asli Papua tak mau menjadi kiper adalah melekatnya budaya permainan Patah Kaleng sejak lama.
Permainan tradisional di Papua ini tidak perlu menggunakan kiper dan gawang, hanya butuh striker, gelandang, hingga bek saja, serta kaleng sebagai alat permainan.
Lapangan yang digunakan pun menyesuaikan banyaknya pemain yang ikut serta. Bisa dilakukan hanya dengan dua-tiga orang untuk lapangan kecil atau lima-10 orang pada lapangan yang lebih besar.
Anak-anak Papua akan saling mengenai kaleng yang diletakkan di ujung lapangan untuk mencetak gol bagi tim masing-masing. Segala upaya dilakukan dengan 'menggoreng' (sebutan menggocek ala Papua) beberapa lawan.
Permainan Patang Kaleng tak memiliki aturan bola ke luar atau pelanggaran. Lebih uniknya lagi adalah kalau permainan ini bisa bersambung alias dilanjutkan esok hari dengan skor yang didapat hari ini.
Situasi ini mampu menjadi cikal bakal kemampuan para pemain Papua ketika beranjak dewasa semakin terasah, diwarnai pantang menyerah, hingga berjuang untuk bermain maksimal dalam sebuah pertandingan.

Patah Kaleng pula lah yang melahirkan nama-nama mentereng seperti Boaz Solossa, Imanuel Wanggai, Ian Kabes, Titus Bonai, Patrich Wanggai, Osvaldo Haay, hingga Todd Rivaldo Ferre dalam kancah sepak bola nasional.
Meski tak banyak yang mengetahui sejak kapan olahraga tradisiional ini dimulai tetapi Patah Kaleng sudah terlanjut merasuki masyarakat Papua yang gemar bermain sepak bola. Tak jarang pula anak-anak Papua ini mengalami cedera.
Permainan Patah Kaleng-lah yang membuat talenta asli Papua tak ingin menjadi kiper. Mereka lebih suka mencetak banyak gol dan menggocek lawan-lawannya di lapangan.