Belajar dari Doktrin Lippi dan 10 Perintah Sacchi

Beberapa tahun setelah era Sacchi, muncul Marcelo Lippi yang mulai meniti kesuksesan bersama Juventus. Marcelo Lippi juga memiliki pegangan tersendiri dalam menempa pemain-pemainnya.
Untuk Lippi, mungkin biasa dikenal dengan sebutan doktrin Lippi. Ada sejumlah kesamaan yang dimiliki tiap pelatih besar, misalnya semangat tim, pengorbanan tim, dan menjauhkan rasa puas diri.
Akan tetapi, doktrin Lippi memiliki sejumlah kekhususan. Jika Arrigo Sacchi punya "10 hukum" maka Lippi memiliki "8 hukum". Kedelapan hukum itu adalah:
1. Pemain bintang harus respek kepada kerja teman satu tim dan siap membantu.
2. Tiap anggota tim (termasuk pelatih) tidak boleh jumawa atas status dan rekam jejak mereka terdahulu.
3. Menjauhkan sikap individualistis
4. Tugas Lippi sebagai pelatih bukanlah untuk memberi pelajaran, tetapi memberi nasihat dan mengajak pemain untuk sadar bahwa keterampilan alami tak selamanya membawa kemenangan, melainkan kerja keras.
5. Seluruh anggota tim harus bersedia berkorban demi kemenangan.
6. Pemain harus bisa memetik tiap pelajaran dan menekankan artipengorbanan.
7. Kesalahan adalah wajar. Namun, tim yang sedikit melakukan kesalahan adalah mereka yang berhasil.
8.Mengoreksi kesalahan. Kesalahan tak boleh dibebankan kepada individu, tetapi kepada seluruh tim dan perbaikannya pun harus dilakukan secara kolektif.
Prinsip melatih Lippi memang luar biasa. Ia paham betul akan perasaan para pemainnya. Terlihat dari poin satu dan kedua di mana ia tak ingin ada pemain yang diistimewakan atau merasa istimewa.
Saat ini, banyak pemain-pemain bintang yang mendapat perlakuan khusus di tim mereka, dan hal itu tak pernah diinginkan Lippi. Terbukti, ia tak pernah membeda-bedakan bintang seperti Del Piero dan para pemain cadangan Juve, atau Ronaldo dan Christian Vieri dengan pemain Inter Milan lainnya.
Lippi juga berintropeksi kepada dirinya sendiri. Meski menghadirkan 6 scudetto dan 1 Liga Champions untuk Juventus serta trofi Piala Dunia untuk Italia, Lippi sampai saat ini adalah sosok rendah hati yang tak banyak omong dan memamerkan prestasinya layaknya pelatih-pelatih Eropa lain.
Akan tetapi, ada satu titik noda dari doktrin Lippi ini, yakni Roberto Baggio. Entah mengapa, Roberto Baggio selalu dipandang sebelah mata oleh Marcelo Lippi.
Kala bermain di Juventus, Baggio ditendang Lippi. Padahal, ia bermain sangat bagus bahkan sebelumnya meraih gelar Ballon d'Or.
Ketika Lippi datang ke inter, Roberto Baggio yang kala itu membela Nerazzurri juga dibuang Lippi. Padahal, Roberto Baggio adalah sosok yang dikenal rendah hati dan berkarisma.
Terlepas dari itu semua, tak ada gading yang tak retak. Pelatih sehebat Lippi dan Sacchi pun juga punya banyak kelemahan, bahkan dalam memegang doktrin dan prinsipnya sekali pun.