Ismael Bennacer, Terbuang di Arsenal hingga Jadi Sang Metronom di AC Milan
Kehebatan Ismael Bennacer sampai-sampai membuatnya diincar oleh klub raksasa Liga Inggris, Manchester City, yang sempat menawarnya dengan biaya 50 juta euro. Namun,
tak banyak yang tahu bahwa pemain Aljazair satu ini ternyata pernah menjadi buangan klub Arsenal.
Pada 2017 ia bergabung bersama akademi Arsenal. Bennacer yang saat itu berusia 19 main semusim dengan catatan 24 penampilan.
Namun, Arsenal memutuskan untuk tak mempertahankannya. Alasannya cukup kejam, Bennacer dinilai tak memiliki postur ideal untuk persaingan di Liga Inggris.
Apalagi, saat itu memang Bennacer lebih sering bermain di posisi sayap. Namun sebelum itu, ia dipinjamkan terlebih dulu di tim Ligue 2.
Penampilan di Ligue 2 membuatnya dilirik oleh klub Serie B, Empoli. Di sinilah Bennacer menemukan jati dirinya sebagai seorang gelandang bertahan sejati.
Ia membantu Empoli menjuarai Serie B dengan tampil sebanyak 39 laga dan mencetak 2 gol serta 4 assist. Pada musim pertamanya di Serie A, ia juga mampu tampil menjanjikan meski gagal membawa timnya selamat dari degradasi.
Beruntung, ada kejelian seorang Paolo Maldini dan Federico Massara yang melihat potensi Ismael Bennacer. Milan yang ingin membangun pemain dengan pondasi pemain muda tertarik untuk merekrut Bennacer yang saat itu masih berusia 21 tahun.
Para milanisti pun bersorak sorai ketika tak lama diresmikan, Bennacer dinobatkan sebagai pemain terbaik Piala Afrika 2019 usai membawa negaranya, Aljazair, menjadi juara.
Setelah itu, kisah indahnya di AC Milan pun berlanjut hingga akhirnya bisa seperti sekarang ini. Tentu saja potensi dari Ismael Bennacer masih bisa terus ditingkatkan mengingat usianya yang masih 22 tahun.