Mengenang Shunsuke Nakamura, Samurai Jepang Penakluk Eropa

Shunsuke Nakamura mengawali karier sepak bolanya pada tahun 1997 kala debut di J-League bersama Yokohama F. Marinos di mana di tim ini, ia bermain selama lima tahun denagn torehan 33 gol dalam 148 penampilan.
Jumlah gol tersebut membuatnya mendapat sorotan dari Eropa di mana tim asal Italia, Reggina, memboyongnya pada 2002. Di Italia, perjalanannya pun tak berlangsung mulus seperti pendahulunya, Nakata.
Nakamura hanya menghabiskan tiga musim bersama Reggina dengan 11 gol dan 12 assist dalam 81 laga. Pada akhirnya, di tahun 2005 ia diboyong Celtic dengan mahar hanya 2.5 juta poundsterling saja kala itu.
Di Celtic lah nama Nakamura melambung di Eropa. Berkat keberhasilan menjuarai Liga Skotlandia, ia berkesempatan tampil di Liga Champions di mana ia menorehkan tinta emas yakni dua tendangan bebas ke gawang Man United.
Di Celtic, Nakamura mencetak 29 gol dan 43 assist dalam 129 penampilan sebelum pada 2009 ia hijrah ke Spanyol dengan bergabung Espanyol.
Namun, di Spanyol kesulitan kembali ia dapati. Tepat di usia 31 tahun, Nakamura memilih pulang kampung dan bermain untuk tim profesional pertamanya, Yokohama Marinos hingga 2017.
Lalu, petualangannya berlanjut ke Jubilo Iwata hingga 2019 dan kini di usianya yang ke-42 tahun, ia masih bermain di Yokohama FC bersama kompatriotnya yang berstatus pemain tertua di dunia yakni King Kazu atau Kazuyoshi Miora.
Nakamura terkenal akan visinya dalam bermain, jangkauan umpannya serta kemampuan tendangan bebasnya. Banyak gol spektakuler ia ciptakan di Eropa.
Selain dua gol tendangan bebas ke gawang Van der Sar, ia juga pernah mencetak voli indah ke gawang Rangers dalam Old Firm Derby.
Mungkin Nakamura tak bergelimang gelar layaknya Park Ji-sung, tak melegenda seperti Hidetoshi Nakata ataupun tajam seperti Son Heung-min.
Namun, apa yang ditinggalkan Shunsuke Nakamura akan tetap berkesan untuk para pecinta sepak bola.