In-depth

Final Liga Champions di Istanbul, Inter Milan Bisa Belajar dari Aib Masa Lalu AC Milan

Jumat, 2 Juni 2023 18:05 WIB
Editor: Deodatus Kresna Murti Bayu Aji
© Liverpool FC
Pelatih Liverpool, Rafael Benitez, mengarak trofi juara Liga Champions bersama Steven Gerrard usai mengalahkan AC Milan di final, 25 Mei 2005. Copyright: © Liverpool FC
Pelatih Liverpool, Rafael Benitez, mengarak trofi juara Liga Champions bersama Steven Gerrard usai mengalahkan AC Milan di final, 25 Mei 2005.
Aib AC Milan di Istanbul 2005 Silam

Pertandingan final Liga Champions musim 2004-2005 silam di Stadion Olimpiyat Attaturk, Turki menjadi kenangan pahit bagi pendukung AC Milan.

Di laga final 18 tahun silam, AC Milan berhadapan dengan Liverpool yang masih diperkuat oleh Steven Gerrard. Di kubu Rossoneri masih ada sosok Paolo Maldini dan Crespo.

Di awal laga, AC Milan langsung menampilkan permainan istimewa bak favorit juara Liga Champions. Sebaliknya, Liverpool tampil loyo bak tim medioker.

Gawang Jerzy Dudek bahkan sudah bergetar akibat sontekan jarak dekat Paolo Maldini ketika laga belum genap bergulir satu menit, tepatnya pada detik ke-54.

Gol Maldini membuat pemain AC Milan semakin percaya diri dan bernafsu menambah keunggulan. Hernan Crespo mengubah skor menjadi 3-0 sebelum turun minum berkat sepasang aksi brilian pada menit ke-38 dan 43.

Tak cuma sektor ofensif, lini pertahanan AC Milan juga bermain impresif sepanjang babak pertama. Kuartet Cafu, Alessandro Nesta, Jaap Stam, dan Paolo Maldini sama sekali tidak mengizinkan pemain Liverpool menebar ancaman.

Keunggulan tiga gol tanpa balas ibarat meletakkan satu kaki AC Milan di tangga juara Liga Champions 2004-2005.

Akan tetapi, semuanya berubah setelah jeda 45 menit pertama berakhir. Babak kedua bak mimpu buruk bagi seluruh pendukung AC Milan.

Liverpool berhasil menyamakan skor hanya dalam tempo enam menit melalui sundulan Steven Gerrard (54'), tembakan Vladimir Smicer (56'), dan sepakan Xabi Alonso menyambar bola muntah eksekusi penalti yang mampu diblok Dida (60').

Dari sini, keadaan psikologis kedua tim mengalami pertukaran secepat kilat. Kepercayaan diri dan semangat juang Liverpool berlipat ganda, sedangkan mentalitas AC Milan ambruk sampai akhirnya harus mengakui keunggulan Si Merah di babak adu penalti.